Festival Iduladha 2026 SMPN 9 Yogyakarta - Berbagi, Berkurban, dan Mengikat Persaudaraan
Mentari pagi belum sepenuhnya tinggi ketika semangat kebersamaan mulai terasa di lingkungan SMP Negeri 9 Yogyakarta. Bukan sekadar perayaan hari besar keagamaan, Festival Iduladha 2026 menjadi momentum istimewa yang mengajarkan makna keikhlasan, kepedulian, dan gotong royong kepada seluruh warga sekolah.
Rangkaian kegiatan dimulai pada Kamis, 28 Mei 2026, dengan penyaluran hewan kurban ke wilayah desa yang membutuhkan. Momen ini menjadi simbol nyata bahwa semangat Iduladha tidak berhenti pada ibadah kurban semata, tetapi juga tentang menghadirkan kebahagiaan bagi sesama. Wajah-wajah penuh syukur dari masyarakat yang menerima bantuan menjadi pemandangan yang menghangatkan hati dan mengingatkan bahwa berbagi adalah salah satu bentuk ibadah terbaik.

Tahun ini, SMP Negeri 9 Yogyakarta menghimpun dan menyalurkan total 3 ekor sapi dan 8 ekor kambing sebagai hewan kurban. Jumlah tersebut merupakan hasil dari semangat kebersamaan, partisipasi, dan kepedulian seluruh keluarga besar sekolah yang ingin menghadirkan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Puncak kegiatan berlangsung pada Sabtu, 30 Mei 2026. Sejak pagi hari, suasana sekolah dipenuhi aktivitas yang penuh makna. Proses penyembelihan hewan kurban dilakukan sesuai syariat dengan penuh kehati-hatian dan rasa hormat terhadap nilai-nilai keagamaan. Guru, siswa, panitia, dan warga sekolah bekerja bersama dalam suasana yang tertib dan penuh kebersamaan.
Setelah proses penyembelihan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pencacahan dan pendistribusian daging kurban kepada masyarakat yang berhak menerima. Kantong-kantong daging yang dibagikan bukan hanya berisi bahan pangan, tetapi juga membawa pesan kepedulian dan solidaritas sosial yang menjadi inti dari perayaan Iduladha.
Namun Festival Iduladha tahun ini tidak hanya menghadirkan kegiatan ibadah dan sosial. Suasana semakin meriah dengan digelarnya Lomba Master Chef Iduladha, sebuah kegiatan kreatif yang menjadi favorit para siswa. Yang menarik, seluruh proses memasak dilakukan menggunakan tungku tradisional, menghadirkan pengalaman berbeda yang jarang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Asap tipis yang mengepul dari tungku, aroma masakan yang menggoda, serta sorak sorai para peserta menciptakan suasana hangat penuh keceriaan. Setiap kelompok berusaha menyajikan hidangan terbaik mereka dengan memadukan kreativitas, kekompakan, dan keterampilan memasak. Tidak sedikit yang mengaku bahwa pengalaman memasak menggunakan tungku menjadi salah satu momen paling berkesan dalam festival tahun ini.
Salah satu siswa mengungkapkan, “Biasanya memasak menggunakan kompor, tapi kali ini memakai tungku. Seru sekali karena harus bekerja sama dan belajar sabar mengatur api. Rasanya seperti kembali ke tradisi yang sudah lama ada.”
Siswa lainnya menambahkan, “Yang paling berkesan bukan hanya lombanya, tetapi ketika melihat daging kurban dibagikan kepada masyarakat. Kami jadi belajar arti berbagi dan peduli kepada sesama.”
Festival Iduladha 2026 di SMP Negeri 9 Yogyakarta bukan hanya menghadirkan keseruan, tetapi juga pembelajaran karakter yang mendalam. Melalui kegiatan ini, siswa diajak memahami bahwa nilai keikhlasan, kebersamaan, dan kepedulian sosial harus terus hidup dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika daging kurban dibagikan, ketika api tungku menyala, dan ketika tawa kebersamaan terdengar di sudut-sudut sekolah, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya sebuah acara. Yang sedang ditanam adalah nilai-nilai kemanusiaan yang akan tumbuh dalam diri generasi masa depan.
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Suara Pelajar Spelanta! - SMPN 9 Yogyakarta bersama KPU Kota Yogyakarta Gaungkan Pendidikan Pemilih Pemula
Sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh mereka yang hari ini memimpin, tetapi juga oleh generasi muda yang kelak berani menentukan arah masa depannya. Demokrasi yang sehat tumbuh dari w
Jogja Punya Cerita, Spelanta Punya Budaya - Karnaval Peringatan HUT ke-270 Kota Yogyakarta 2026
Ada hari ketika sebuah kota tidak hanya dirayakan dengan angka, tetapi dengan langkah, gerak, suara, dan ingatan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sejak dini hari Senin, 5 Okto
Satu Bangsa, Satu Pancasila - Spelanta Berdiri Tegak Memperingati Hari Kesaktian Pancasila
Pada instansi pendidikan seperti spelanta lapangan bukan sekadar menjadi tempat berkumpul. Ketika Merah Putih berkibar, barisan berdiri tegak, dan Pancasila kembali dikenang, lokasi yan
Memotret Kesiapan Belajar Kelas VII dengan Assessment General Check 2026
Pada Selasa–Rabu, 28–29 September 2026, seluruh siswa kelas VII mengikuti Assessment General Check yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dindikpo
Spelanta Bergerak, Ngeksigondo Berseri! SMPN 9 Yogyakarta Hidupkan Gerakan Yogyakarta Berhati Nyaman
Jumat, 25 September 2026, ketika aktivitas pagi warga Yogyakarta mulai bergerak keluarga besar SMP Negeri 9 Yogyakarta kembali turun tangan melalui Gerakan Yogyakarta Berhati Nyam
Ketika Wajah Jadi Kanvas, Sungai menjadi Arena - Outbound Kelas 7 2026
Siapa bilang belajar harus selalu duduk manis di dalam kelas. Selasa, 22 September 2026, siswa-siswi kelas 7 SMP Negeri 9 Yogyakarta justru memulai hari dengan sebuah petualangan seru d
Tubuh Sehat, Pelajar Hebat! Sehat untuk Berprestasi! SMPN 9 Yogyakarta Gelar Penjaringan Kesehatan Siswa
SMP Negeri 9 Yogyakarta dan Puskesmas Kotagede I menggelar Penjaringan Kesehatan Anak Sekolah bagi siswa kelas 7, 8, dan 9 pada 21–30 September 2026. Kegiatan ini menjadi bag
Satu Langit Spelanta, Beragam Doa, Satu Semangat Persaudaraan
Di sebuah sekolah, keberagaman tidak selalu harus dijelaskan dengan kata-kata. Kadang, keberagaman terasa begitu indah ketika setiap orang diberi ruang untuk menjalankan keyakinannya, s
Belum Punya Hak Pilih, Tapi Sudah Belajar Memilih! Spelanta dan KPU Jogja Bangun Generasi Demokratis
Sebelum suatu hari nanti mereka berdiri di bilik suara dan menentukan pilihan sebagai warga negara, para pelajar perlu terlebih dahulu belajar tentang arti sebuah pilihan. Berangkat dar
SMPN 9 Yogyakarta Peduli Gempa NTT
Jarak antara Yogyakarta dan Nusa Tenggara Timur memang terbentang ribuan kilometer. Namun ketika kabar duka akibat gempa bumi sampai ke hati, jarak seolah tidak lagi menjadi batas. Dari